Wednesday, April 18, 2012

Dia yang Tak Pernah Tau Apa Itu Bahagia

Mendung menggelayut di Selatan Jakarta, ketika seorang anak kecil yang tak pernah merasakan kebahagiaan termenung meratapi mimpi mimpi masa depannya. Tanpa kehangatan keluarga ia dipaksa tumbuh dan menjalani hari harinya di tengah kejamnya Jakarta. Ia tak pernah tau ke mana takdir akan membawanya, ia hanya bisa berjalan dengan kedua kaki yang letih menelusuri aspal panas dan ketika malam tiba tak ada tempat yang bisa disinggahinya sekedar untuk melepas lelahnya, tidur di emper toko beralaskan kardus kardus bekas menjadi pilihan yang tak terelakkan sambil menunggu fajar datang bersama caci maki pemilik toko yang marah. Hidup tak pernah adil untuknya, siapa yang peduli dengannya? Pendidikannya? Pertumbuhan psikologisnya? Mimpi mimpi indahnya? WHO CARES? Kepada siapa ia bisa minta pertolongan? Tuhan! Ya, hanya Tuhan yang bisa menolongnya tapi apa ia mengenal Tuhannya? Yang bahkan orang tuanya pun ia tidak tau. Siapa yang akan mengajarinya mengenal Tuhan, solat, mengaji? Siapa yang akan mengajarinya membaca, menulis, berhitung? Siapa yang mendengar jerit hatinya? Siapa yang memeluk ketika ia takut? Siapa yang akan menuntun dan menemaninya menyusuri jalan panjang mimpi mimpinya? Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya hingga rasanya mau pecah...Ooooo hidupnya hanya lelucon bagi mereka yang tak punya hati nurani...

Dia dan Aku

Aku berjalan tanpa tau arah dan tujuanku
Dia berlari dengan arah dan tujuannya

Aku mengeluh dengan segala keadaanku
Dia bersyukur atas semua miliknya

Aku menangis merasakan sakit
Dia tersenyum menahan deritanya

Aku tertawa dengan kegembiraanku
Dia menangis haru atas kebahagiaannya

Aku berteriak saat penat melanda
Dia berdzikir ketika hatinya resah

Aku mencaci ketika tersakiti
Dia memuji ketika dizhalimi

Betapa dia dan aku terpisah jurang yang jauh
Dia yang memiliki hati seluas samudera
Aku hanya memiliki hatiku sendiri
Hidupnya untuk dia, Tuhan dan orang lain
Hidupku hanya untukku
Dia tau apa yang dia cari
Sedangkan aku???
Bahkan siapa diriku pun...
"Aku tak tau"
Dia punya mercusuarnya sendiri
Yang akan selalu menuntunnya ke tujuan
Sedangkan aku???
"Apa mercusuarku? Dimana?"

Akankah waktu berpihak padaku?
Menuntun dan menunjukkan arahku
Mencapai mercusuarku
Ya, mercusuar milikku sendiri

Thursday, April 12, 2012

Calon DKI 1 dan DKI 2

Media media sedang disibukkan dengan berita tentang cagub dan cawagub DKI (DKI 1 dan 2). Ada 6 pasangan calon yang kemungkinan akan masuk dalam pemilihan yaitu: Faisal Basri-Biem Benyamin, Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini, Jokowi-Ahok, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hendarji Supandji-Reza Patria, Foke-Nachrowi. Ada 2 pasangan calon independen yaitu Faisal-Biem dan Hendarji-Reza saya mendukung Faisal-Biem karena tau bagaimana Pak Faisal. Beliau cerdas, kritis, baik, orangnya juga humble dan yang pasti beliau mengenal Jakarta dengan baik. Pak Faisal identik dengan kemeja biru muda polos, celana warna krem, tas ransel, sendal gunung dan tidak lupa botol minum. Ya, beliau selalu membawa botol minum karena ingin mencegah global warming yang semakin menggerogoti bumi ini. Pernah suatu hari saya bertanya sama Pak Faisal "masih bawa botol minum Pak?" beliau menjawab "itu disediain dispenser apa gunanya kalo gelas dan botol botol aqua masih banyak". Setiap kali beliau mau beli makan selalu menawarkan orang orang yang ada di situ terutama karyawan dan makanan favoritnya adalah mie yamin kafe. Pak Faisal juga seorang yang sosialismenya tinggi, beliau punya beberapa anak asuh dan tidak pelit kalau dimintain sumbangan apalagi untuk bantuan biaya pendidikan yang tidak mampu. Sayangnya beliau tidak berhasil menyelesaikan pendidikan S3 politik di FISIP UI karena sempat bertengkar dengan dosennya.

Sebenarnya agak kurang fair karena saya tidak mencoba untuk mengenal profil dari pasangan yang lain atau mencoba mencari tau apa program kerja yang akan mereka tawarkan. Ada nama Jokowi yang sedang naik daun karena kepemimpinannya yang baik sebagai Bupati Solo tapi saya kurang respek karena menurut saya dia tidak mengenal baik Jakarta walaupun dia bisa memimpin Solo dengan baik tapi pada kenyataannya Jakarta itu berbeda jauh dengan Solo. Calon lain yang menurut saya mengenal Jakarta yaitu Hidayat Nur Wahid tapi saya kurang respect karena tidak mengenal sosoknya. Saya sudah terlanjur jatuh hati dengan sosoknya Pak Faisal karena mengenal beliau dari kesehariannya sehingga lebih obyektif, bukan dengan mengenal sosoknya dari media yang kemungkinan besar hanya topeng dan kepura puraan. Lagi lagi masalah yang akan menimpa Pak Faisal adalah karena beliau merupakan calon independen, tidak ada partai yang menjadi backupnya jadi kansnya memang kecil untuk bisa keluar sebagai pemenang. Birokrasi di negara ini memang mempersulit yang baik dan mempermudah yang buruk so akan banyak sekali hambatan yang akan berusaha menjegal tampilnya pemenang independen. Pendukung Pak Faisal kebanyakan berasal dari kalangan aktivis dan akademisi yang tidak hanya memandang kepentingan kelompok atau golongan tetapi lebih kepada kepentingan bersama, Jakarta pada khususnya.

Saya dan mungkin sebagian warga Jakarta sudah MUAK dengan pemimpin yang memakai embel embel partai sebagai naungannya karena mereka punya tanggung jawab terhadap partai yang mendukungnya sehingga harus memberikan balas jasa. Kami butuh pemimpin yang independen yang bisa memimpin Jakarta dengan bijaksana demi kepentingan bersama bukan kepentingan partai.