Thursday, April 12, 2012

Calon DKI 1 dan DKI 2

Media media sedang disibukkan dengan berita tentang cagub dan cawagub DKI (DKI 1 dan 2). Ada 6 pasangan calon yang kemungkinan akan masuk dalam pemilihan yaitu: Faisal Basri-Biem Benyamin, Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini, Jokowi-Ahok, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hendarji Supandji-Reza Patria, Foke-Nachrowi. Ada 2 pasangan calon independen yaitu Faisal-Biem dan Hendarji-Reza saya mendukung Faisal-Biem karena tau bagaimana Pak Faisal. Beliau cerdas, kritis, baik, orangnya juga humble dan yang pasti beliau mengenal Jakarta dengan baik. Pak Faisal identik dengan kemeja biru muda polos, celana warna krem, tas ransel, sendal gunung dan tidak lupa botol minum. Ya, beliau selalu membawa botol minum karena ingin mencegah global warming yang semakin menggerogoti bumi ini. Pernah suatu hari saya bertanya sama Pak Faisal "masih bawa botol minum Pak?" beliau menjawab "itu disediain dispenser apa gunanya kalo gelas dan botol botol aqua masih banyak". Setiap kali beliau mau beli makan selalu menawarkan orang orang yang ada di situ terutama karyawan dan makanan favoritnya adalah mie yamin kafe. Pak Faisal juga seorang yang sosialismenya tinggi, beliau punya beberapa anak asuh dan tidak pelit kalau dimintain sumbangan apalagi untuk bantuan biaya pendidikan yang tidak mampu. Sayangnya beliau tidak berhasil menyelesaikan pendidikan S3 politik di FISIP UI karena sempat bertengkar dengan dosennya.

Sebenarnya agak kurang fair karena saya tidak mencoba untuk mengenal profil dari pasangan yang lain atau mencoba mencari tau apa program kerja yang akan mereka tawarkan. Ada nama Jokowi yang sedang naik daun karena kepemimpinannya yang baik sebagai Bupati Solo tapi saya kurang respek karena menurut saya dia tidak mengenal baik Jakarta walaupun dia bisa memimpin Solo dengan baik tapi pada kenyataannya Jakarta itu berbeda jauh dengan Solo. Calon lain yang menurut saya mengenal Jakarta yaitu Hidayat Nur Wahid tapi saya kurang respect karena tidak mengenal sosoknya. Saya sudah terlanjur jatuh hati dengan sosoknya Pak Faisal karena mengenal beliau dari kesehariannya sehingga lebih obyektif, bukan dengan mengenal sosoknya dari media yang kemungkinan besar hanya topeng dan kepura puraan. Lagi lagi masalah yang akan menimpa Pak Faisal adalah karena beliau merupakan calon independen, tidak ada partai yang menjadi backupnya jadi kansnya memang kecil untuk bisa keluar sebagai pemenang. Birokrasi di negara ini memang mempersulit yang baik dan mempermudah yang buruk so akan banyak sekali hambatan yang akan berusaha menjegal tampilnya pemenang independen. Pendukung Pak Faisal kebanyakan berasal dari kalangan aktivis dan akademisi yang tidak hanya memandang kepentingan kelompok atau golongan tetapi lebih kepada kepentingan bersama, Jakarta pada khususnya.

Saya dan mungkin sebagian warga Jakarta sudah MUAK dengan pemimpin yang memakai embel embel partai sebagai naungannya karena mereka punya tanggung jawab terhadap partai yang mendukungnya sehingga harus memberikan balas jasa. Kami butuh pemimpin yang independen yang bisa memimpin Jakarta dengan bijaksana demi kepentingan bersama bukan kepentingan partai.

No comments: