Tepat 5 tahun yang lalu pada Selasa, 29 Mei 2007 kata kata itu menghantamku "Dek, bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada" darahku berhenti mengalir dan tubuhku kebas seakan mati rasa, tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku ketika itu. Tuhan telah mengambilnya, membawanya ke tempat terindah dan ya, aku tau itu meski hati ini masih merasa berat melepasnya karena belum mampu memberikan apapun untuknya.
Pagi itu aku berangkat ke rumah sakit tanpa ada perasaan apapun karena tidak ada yang memberitau kalau Bapak sudah kritis. Sampai lampu merah cililitan aku melihat mobil kakakku, aku langsung turun dan masuk mobilnya. "kamu dari mana aja sih dek? I dari rumah I nih bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada". Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari ke ruang rawat Bapak ternyata di sana hanya ada Ibu karena jenazah Bapak sudah dibawa ke kamar jenazah. Aku menangis sejadi jadinya tanpa peduli apapun sampai akhirnya aku bisa menemukan kesadaran dan mulai membacakan yasin untuk Bapak. Aku pulang dengan ambulans bersama jenazah Bapak dengan terus membacakan yasin. Sampai di rumah tangisku pecah lagi, aku tidak terpikir memberitau siapapun kecuali Mila dan dia menjadi saksi betapa menyesalnya aku. Para pelayat yang berdatangan banyak yang menangis karena mereka mengingat jasa dan keramahan Bapak, mereka juga terkejut atas kepergian Bapak yang tiba tiba karena tidak ada kabar apapun sebelumnya. Memang sehari sebelumnya kami tidak bilang kalau akan ke rumah sakit, Bapak bilang hanya mau jalan jalan, setelah sore baru tetangga tau kalau Bapak dirawat tetapi keadaannya belum kritis karena keluhannya hanya sesak napas sehingga ketika keesokan paginya bapak meninggal mereka semua tidak percaya. Banyak yang mengatakan kalau pelayat yang datang luar biasa banyak tetapi aku tidak tau karena tidak terpikirkan hal hal lain, aku hanya fokus membacakan yasin di samping jenazah Bapak, aku tidak tau siapa saja yang datang meskipun ada yang menyalamiku. Sebelum jenazah Bapak dikafankan keluarga diberi kesempatan terakhir untuk mencium dan aku baru menyadari betapa penyesalan itu datang terlambat. Akhirnya aku, Ibu dan Mbak Susi mengantar Bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya dan dengan berat hati harus meninggalkannya di sana hanya dengan doa semoga dia diselamatkan dari siksa kubur dan api neraka hingga kelak kami bertemu di surgaNya yang indah.
Aku tau dia tidak meminta dan menginginkan apapun dari anak anaknya karena dia hanya akan memberi untuk kami tanpa pernah meminta balasan. Dia adalah Bapak terbaik yang pernah ada yang akan melakukan apapun untuk keluarganya terutama anak anaknya. Bapak tidak pernah mau memarahi apalagi menghukum anaknya, kasih sayangnya mengalir tulus dan tidak pernah berhenti bahkan ketika aku dan kakakku bukan anak anak lagi. Sejak kecil Bapak selalu menyenangkanku, dia akan dengan senang hati mengajakku berkeliling naik sepeda sambil membawa bekal makanan dan minuman hingga kadang aku tertidur. Sepeda adalah kenangan masa kecilku bersama Bapak dimana kami sering menghabiskan waktu bermain bersama. Kenangan itu akan tetap bersemi dalam hati dan ingatanku sekaligus menghadirkan penyesalan dan perasaan bersalahku karena sering membantah dan mengabaikan ucapannya. Penyesalan lain adalah aku belum sempat membahagiakan dan membalas kasih sayangnya, aku belum sempat memberinya apapun. Bapak tidak sempat menghadiri wisudaku padahal aku tau dia akan bahagia sekali melihatku memakai toga. Bapak sudah pergi tanpa aku punya kesempatan membahagiakannya dengan materi dan kebanggaan karena kini hanya doaku yang akan memberinya kebahagiaan. Kewajibanku saat ini adalah membahagiakan dan menjaga Ibu. Jangan pernah membuang buang kesempatan yang sudah dikasih Tuhan untuk mencintai orang tuamu dan membahagiakan mereka ataupun orang orang yang seharusnya kita cintai, kita jaga dan kita bahagiakan karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya
No comments:
Post a Comment