Tuesday, May 7, 2013

Catherine Earnshaw's Love

"If all else perished, and HE remained, I should still continue to be, and if all else remained, and he were annihilated, the universe would turn to a mighty stranger: I should not seem a part of it."
                                                                                                                       
                                                                                                  -Catherine Earnshaw-

Wednesday, April 17, 2013

Berkaca Dari Sekitar

Otak yang pintar dan agama yang baik tidak lantas menjadikan kita selalu benar dan yang paling benar. Apalagi harta dan status sosial yang hanya merupakan karangan manusia yang mungkin gila hormat. Terkadang kita lupa, pada dasarnya manusia itu sama, hal ini sering kita katakan pada orang lain dan mengajarkan banyak kebaikan untuk orang lain tapi lupa untuk mengatakan dan mengajarkan itu pada diri sendiri mungkin karna tertutup rasa malu, marah ataupun tinggi hati. JANGAN pernah berpikir derajat kita lebih tinggi dari orang lain karna kita lebih kaya, lebih pintar, jabatan kita lebih tinggi, status sosial kita lebih tinggi atau karna kita majikannya. 

Saya hanya orang biasa dan bukan siapa-siapa tapi saya bersyukur karna diberi kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitar, melihat dan merasakan apa yang terjadi. Hidup di tengah orang-orang pintar, cerdas, kaya, beragama baik tapi tidak semua orang bisa mengaplikasikan apa yang mereka miliki dan mereka pahami. Manusia adalah tempatnya lupa dan salah tapi alangkah baiknya kalau kita tidak menjadikan hal itu sebagai "excuse" untuk melakukan kesalahan-kesalahan yang kita sadari. Terkadang mungkin timbul rasa tinggi hati, kesal, marah, iri, dll yang tidak perlu kita tunjukkan ke orang lain tapi cukup dirasakan sendiri dan berusaha untuk meredamnya, tidak semua perasaan harus selalu diutarakan dan ditunjukkan. Saya sedang berusaha untuk memposisikan diri di posisi orang lain agar kita tidak selalu menyalahkan orang lain dan merasa menjadi orang yang selalu benar dan paling benar. Menyalahkan dan membuat orang lain merasa bersalah tidak akan membuat hidup kita lebih tenang dan lebih baik apalagi merendahkan orang lain. "Berkacalah dari kejadian sekitar agar kita bisa belajar."

Wednesday, February 13, 2013

Lean On Me

I always WANT something to hold on
Actually, i don't need it
I can stand on my feets
But i'll feel safe if i have something to hold on

I know that no one can interfere my life without my permission
And i'll never let it happen
Once i let someone interfere my life so it will be continue

I'll never let myself to lean on someone or something
But i'll let people lean on me

You can lean on me now
I'm happy if you feel the same


Friday, July 20, 2012

Myself


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan aku tak perduli dengan semua yang terjadi. Ada sebuah tali yang mengikatku di sini hingga aku tak mampu bergerak, menahanku tanpa perduli dengan jiwaku yang semakin lelah melihat semua perubahan yang terjadi. Aku ingin berjalan, aku ingin berlari menjauhi tempat ini tapi kenapa kakiku tak bisa bergerak? Orang-orang berubah seiring berjalannya waktu tapi kenapa aku tidak??? Mungkin bukan tidak tapi belum...ya...belum...itu yang selalu aku katakan pada diriku ketika diri ini meminta jawaban. Saat ini hati, jiwa dan pikiranku masih di sini tapi aku yakin tidak akan lama lagi seluruh diriku akan mampu terbebas dari semua belenggu yang saat ini menjeratku...Ketika jeratan-jeratan itu lepas maka aku tidak hanya akan berjalan tapi aku akan berlari mengejar ketertinggalanku, mengejar mimpi-mimpiku yang telah lama terpendam dan menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa...aku bukan hanya seorang manusia tak berguna. Aku telah dikaruniai dengan segala kekurangan dan kelebihan tapi aku tak mau kekuranganku menghambat semua kelebihan dan kemampuanku untuk terus tumbuh dan menunjukkan yang terbaik. Aku ingin menjadi manusia biasa yang tidak biasa.

Tuesday, July 3, 2012

Kakek Penjual Ketoprak

Lelaki tua itu hanyalah seorang penjual ketoprak, seorang kakek yang usinya mungkin sudah lebih dari 70 tahun masih berjuang untuk mencari nafkah. Saya selalu terenyuh ketika melihatnya, dia berjualan di pinggir jalan sekitar Mampang selepas maghrib. Penglihatan dan pendengarannya sudah mulai memudar bahkan saya harus memanggilnya beberapa kali baru dia mendengar. Saya belum tau bagaimana keluarganya, apakah dia memiliki istri, anak, cucu, atau keluarga yang lain. Jujur saya ingin sekali berbincang sejenak dengannya hanya untuk tau tentang keluarganya dan tentang hidupnya, bagaimana seorang kakek yang sudah tua renta masih harus berjualan sendiri. Setiap manusia memang punya jalan dan suratan masing masing tapi alangkah sakitnya hati ini melihat kehidupan orang orang yang tidak seberuntung saya. Sedangkan di sisi lain banyak anak anak muda atau orang yang lebih muda darinya mencari nafkah dengan cara cara yang kurang baik dan kurang etis. Betapa besar semangat dan rasa tanggung jawabnya sampai dia masih mau berjualan yang entah berapa pendapatan setiap harinya. Apa yang kakek itu lakukan bukanlah sesuatu yang mudah tanpa adanya kemauan yang keras, usahanya butuh waktu dan tenaga serta pikiran agar dagangannya laris. Sampai kapan kakek itu harus berjualan hanya Tuhan yang tau karena itu rahasiaNya. Hanya doa yang terucap untuknya semoga Allah melindunginya, melancarkan usahanya serta memberikan rizki yang cukup dan berkah untuknya.

Tuesday, May 29, 2012

In Memoriam - Selasa, 29 Mei 2007

Tepat 5 tahun yang lalu pada Selasa, 29 Mei 2007 kata kata itu menghantamku "Dek, bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada" darahku berhenti mengalir dan tubuhku kebas seakan mati rasa, tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku ketika itu. Tuhan telah mengambilnya, membawanya ke tempat terindah dan ya, aku tau itu meski hati ini masih merasa berat melepasnya karena belum mampu memberikan apapun untuknya. 

Pagi itu aku berangkat ke rumah sakit tanpa ada perasaan apapun karena tidak ada yang memberitau kalau Bapak sudah kritis. Sampai lampu merah cililitan aku melihat mobil kakakku, aku langsung turun dan masuk mobilnya. "kamu dari mana aja sih dek? I dari rumah I nih bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada". Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari ke ruang rawat Bapak ternyata di sana hanya ada Ibu karena jenazah Bapak sudah dibawa ke kamar jenazah. Aku menangis sejadi jadinya tanpa peduli apapun sampai akhirnya aku bisa menemukan kesadaran dan mulai membacakan yasin untuk Bapak. Aku pulang dengan ambulans bersama jenazah Bapak dengan terus membacakan yasin. Sampai di rumah tangisku pecah lagi, aku tidak terpikir memberitau siapapun kecuali Mila dan dia menjadi saksi betapa menyesalnya aku. Para pelayat yang berdatangan banyak yang menangis karena mereka mengingat jasa dan keramahan Bapak, mereka juga terkejut atas kepergian Bapak yang tiba tiba karena tidak ada kabar apapun sebelumnya. Memang sehari sebelumnya kami tidak bilang kalau akan ke rumah sakit, Bapak bilang hanya mau jalan jalan, setelah sore baru tetangga tau kalau Bapak dirawat tetapi keadaannya belum kritis karena keluhannya hanya sesak napas sehingga ketika keesokan paginya bapak meninggal mereka semua tidak percaya. Banyak yang mengatakan kalau pelayat yang datang luar biasa banyak tetapi aku tidak tau karena tidak terpikirkan hal hal lain, aku hanya fokus membacakan yasin di samping jenazah Bapak, aku tidak tau siapa saja yang datang meskipun ada yang menyalamiku. Sebelum jenazah Bapak dikafankan keluarga diberi kesempatan terakhir untuk mencium dan aku baru menyadari  betapa penyesalan itu datang terlambat. Akhirnya aku, Ibu dan Mbak Susi mengantar Bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya dan dengan berat hati harus meninggalkannya di sana hanya dengan doa semoga dia diselamatkan dari siksa kubur dan api neraka hingga kelak kami bertemu di surgaNya yang indah. 

Aku tau dia tidak meminta dan menginginkan apapun dari anak anaknya karena dia hanya akan memberi untuk kami tanpa pernah meminta balasan. Dia adalah Bapak terbaik yang pernah ada yang akan melakukan apapun untuk keluarganya terutama anak anaknya. Bapak tidak pernah mau memarahi apalagi menghukum anaknya, kasih sayangnya mengalir tulus dan tidak pernah berhenti bahkan ketika aku dan kakakku bukan anak anak lagi. Sejak kecil Bapak selalu menyenangkanku, dia akan dengan senang hati mengajakku berkeliling naik sepeda sambil membawa bekal makanan dan minuman hingga kadang aku tertidur. Sepeda adalah kenangan masa kecilku bersama Bapak dimana kami sering menghabiskan waktu bermain bersama. Kenangan itu akan tetap bersemi dalam hati dan ingatanku sekaligus menghadirkan penyesalan dan perasaan bersalahku karena sering membantah dan mengabaikan ucapannya. Penyesalan lain adalah aku belum sempat membahagiakan dan membalas kasih sayangnya, aku belum sempat memberinya apapun. Bapak tidak sempat menghadiri wisudaku padahal aku tau dia akan bahagia sekali melihatku memakai toga. Bapak sudah pergi tanpa aku punya kesempatan membahagiakannya dengan materi dan kebanggaan karena kini hanya doaku yang akan memberinya kebahagiaan. Kewajibanku saat ini adalah membahagiakan dan menjaga Ibu. Jangan pernah membuang buang kesempatan yang sudah dikasih Tuhan untuk mencintai orang tuamu dan membahagiakan mereka ataupun orang orang yang seharusnya kita cintai, kita jaga dan kita bahagiakan karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya

Wednesday, April 18, 2012

Dia yang Tak Pernah Tau Apa Itu Bahagia

Mendung menggelayut di Selatan Jakarta, ketika seorang anak kecil yang tak pernah merasakan kebahagiaan termenung meratapi mimpi mimpi masa depannya. Tanpa kehangatan keluarga ia dipaksa tumbuh dan menjalani hari harinya di tengah kejamnya Jakarta. Ia tak pernah tau ke mana takdir akan membawanya, ia hanya bisa berjalan dengan kedua kaki yang letih menelusuri aspal panas dan ketika malam tiba tak ada tempat yang bisa disinggahinya sekedar untuk melepas lelahnya, tidur di emper toko beralaskan kardus kardus bekas menjadi pilihan yang tak terelakkan sambil menunggu fajar datang bersama caci maki pemilik toko yang marah. Hidup tak pernah adil untuknya, siapa yang peduli dengannya? Pendidikannya? Pertumbuhan psikologisnya? Mimpi mimpi indahnya? WHO CARES? Kepada siapa ia bisa minta pertolongan? Tuhan! Ya, hanya Tuhan yang bisa menolongnya tapi apa ia mengenal Tuhannya? Yang bahkan orang tuanya pun ia tidak tau. Siapa yang akan mengajarinya mengenal Tuhan, solat, mengaji? Siapa yang akan mengajarinya membaca, menulis, berhitung? Siapa yang mendengar jerit hatinya? Siapa yang memeluk ketika ia takut? Siapa yang akan menuntun dan menemaninya menyusuri jalan panjang mimpi mimpinya? Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya hingga rasanya mau pecah...Ooooo hidupnya hanya lelucon bagi mereka yang tak punya hati nurani...