Wednesday, February 13, 2013

Lean On Me

I always WANT something to hold on
Actually, i don't need it
I can stand on my feets
But i'll feel safe if i have something to hold on

I know that no one can interfere my life without my permission
And i'll never let it happen
Once i let someone interfere my life so it will be continue

I'll never let myself to lean on someone or something
But i'll let people lean on me

You can lean on me now
I'm happy if you feel the same


Friday, July 20, 2012

Myself


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan aku tak perduli dengan semua yang terjadi. Ada sebuah tali yang mengikatku di sini hingga aku tak mampu bergerak, menahanku tanpa perduli dengan jiwaku yang semakin lelah melihat semua perubahan yang terjadi. Aku ingin berjalan, aku ingin berlari menjauhi tempat ini tapi kenapa kakiku tak bisa bergerak? Orang-orang berubah seiring berjalannya waktu tapi kenapa aku tidak??? Mungkin bukan tidak tapi belum...ya...belum...itu yang selalu aku katakan pada diriku ketika diri ini meminta jawaban. Saat ini hati, jiwa dan pikiranku masih di sini tapi aku yakin tidak akan lama lagi seluruh diriku akan mampu terbebas dari semua belenggu yang saat ini menjeratku...Ketika jeratan-jeratan itu lepas maka aku tidak hanya akan berjalan tapi aku akan berlari mengejar ketertinggalanku, mengejar mimpi-mimpiku yang telah lama terpendam dan menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa...aku bukan hanya seorang manusia tak berguna. Aku telah dikaruniai dengan segala kekurangan dan kelebihan tapi aku tak mau kekuranganku menghambat semua kelebihan dan kemampuanku untuk terus tumbuh dan menunjukkan yang terbaik. Aku ingin menjadi manusia biasa yang tidak biasa.

Tuesday, July 3, 2012

Kakek Penjual Ketoprak

Lelaki tua itu hanyalah seorang penjual ketoprak, seorang kakek yang usinya mungkin sudah lebih dari 70 tahun masih berjuang untuk mencari nafkah. Saya selalu terenyuh ketika melihatnya, dia berjualan di pinggir jalan sekitar Mampang selepas maghrib. Penglihatan dan pendengarannya sudah mulai memudar bahkan saya harus memanggilnya beberapa kali baru dia mendengar. Saya belum tau bagaimana keluarganya, apakah dia memiliki istri, anak, cucu, atau keluarga yang lain. Jujur saya ingin sekali berbincang sejenak dengannya hanya untuk tau tentang keluarganya dan tentang hidupnya, bagaimana seorang kakek yang sudah tua renta masih harus berjualan sendiri. Setiap manusia memang punya jalan dan suratan masing masing tapi alangkah sakitnya hati ini melihat kehidupan orang orang yang tidak seberuntung saya. Sedangkan di sisi lain banyak anak anak muda atau orang yang lebih muda darinya mencari nafkah dengan cara cara yang kurang baik dan kurang etis. Betapa besar semangat dan rasa tanggung jawabnya sampai dia masih mau berjualan yang entah berapa pendapatan setiap harinya. Apa yang kakek itu lakukan bukanlah sesuatu yang mudah tanpa adanya kemauan yang keras, usahanya butuh waktu dan tenaga serta pikiran agar dagangannya laris. Sampai kapan kakek itu harus berjualan hanya Tuhan yang tau karena itu rahasiaNya. Hanya doa yang terucap untuknya semoga Allah melindunginya, melancarkan usahanya serta memberikan rizki yang cukup dan berkah untuknya.

Tuesday, May 29, 2012

In Memoriam - Selasa, 29 Mei 2007

Tepat 5 tahun yang lalu pada Selasa, 29 Mei 2007 kata kata itu menghantamku "Dek, bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada" darahku berhenti mengalir dan tubuhku kebas seakan mati rasa, tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku ketika itu. Tuhan telah mengambilnya, membawanya ke tempat terindah dan ya, aku tau itu meski hati ini masih merasa berat melepasnya karena belum mampu memberikan apapun untuknya. 

Pagi itu aku berangkat ke rumah sakit tanpa ada perasaan apapun karena tidak ada yang memberitau kalau Bapak sudah kritis. Sampai lampu merah cililitan aku melihat mobil kakakku, aku langsung turun dan masuk mobilnya. "kamu dari mana aja sih dek? I dari rumah I nih bacain yasin buat Bapak I emang Bapak kenapa mbak? I Bapak udah nggak ada". Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari ke ruang rawat Bapak ternyata di sana hanya ada Ibu karena jenazah Bapak sudah dibawa ke kamar jenazah. Aku menangis sejadi jadinya tanpa peduli apapun sampai akhirnya aku bisa menemukan kesadaran dan mulai membacakan yasin untuk Bapak. Aku pulang dengan ambulans bersama jenazah Bapak dengan terus membacakan yasin. Sampai di rumah tangisku pecah lagi, aku tidak terpikir memberitau siapapun kecuali Mila dan dia menjadi saksi betapa menyesalnya aku. Para pelayat yang berdatangan banyak yang menangis karena mereka mengingat jasa dan keramahan Bapak, mereka juga terkejut atas kepergian Bapak yang tiba tiba karena tidak ada kabar apapun sebelumnya. Memang sehari sebelumnya kami tidak bilang kalau akan ke rumah sakit, Bapak bilang hanya mau jalan jalan, setelah sore baru tetangga tau kalau Bapak dirawat tetapi keadaannya belum kritis karena keluhannya hanya sesak napas sehingga ketika keesokan paginya bapak meninggal mereka semua tidak percaya. Banyak yang mengatakan kalau pelayat yang datang luar biasa banyak tetapi aku tidak tau karena tidak terpikirkan hal hal lain, aku hanya fokus membacakan yasin di samping jenazah Bapak, aku tidak tau siapa saja yang datang meskipun ada yang menyalamiku. Sebelum jenazah Bapak dikafankan keluarga diberi kesempatan terakhir untuk mencium dan aku baru menyadari  betapa penyesalan itu datang terlambat. Akhirnya aku, Ibu dan Mbak Susi mengantar Bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya dan dengan berat hati harus meninggalkannya di sana hanya dengan doa semoga dia diselamatkan dari siksa kubur dan api neraka hingga kelak kami bertemu di surgaNya yang indah. 

Aku tau dia tidak meminta dan menginginkan apapun dari anak anaknya karena dia hanya akan memberi untuk kami tanpa pernah meminta balasan. Dia adalah Bapak terbaik yang pernah ada yang akan melakukan apapun untuk keluarganya terutama anak anaknya. Bapak tidak pernah mau memarahi apalagi menghukum anaknya, kasih sayangnya mengalir tulus dan tidak pernah berhenti bahkan ketika aku dan kakakku bukan anak anak lagi. Sejak kecil Bapak selalu menyenangkanku, dia akan dengan senang hati mengajakku berkeliling naik sepeda sambil membawa bekal makanan dan minuman hingga kadang aku tertidur. Sepeda adalah kenangan masa kecilku bersama Bapak dimana kami sering menghabiskan waktu bermain bersama. Kenangan itu akan tetap bersemi dalam hati dan ingatanku sekaligus menghadirkan penyesalan dan perasaan bersalahku karena sering membantah dan mengabaikan ucapannya. Penyesalan lain adalah aku belum sempat membahagiakan dan membalas kasih sayangnya, aku belum sempat memberinya apapun. Bapak tidak sempat menghadiri wisudaku padahal aku tau dia akan bahagia sekali melihatku memakai toga. Bapak sudah pergi tanpa aku punya kesempatan membahagiakannya dengan materi dan kebanggaan karena kini hanya doaku yang akan memberinya kebahagiaan. Kewajibanku saat ini adalah membahagiakan dan menjaga Ibu. Jangan pernah membuang buang kesempatan yang sudah dikasih Tuhan untuk mencintai orang tuamu dan membahagiakan mereka ataupun orang orang yang seharusnya kita cintai, kita jaga dan kita bahagiakan karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya

Wednesday, April 18, 2012

Dia yang Tak Pernah Tau Apa Itu Bahagia

Mendung menggelayut di Selatan Jakarta, ketika seorang anak kecil yang tak pernah merasakan kebahagiaan termenung meratapi mimpi mimpi masa depannya. Tanpa kehangatan keluarga ia dipaksa tumbuh dan menjalani hari harinya di tengah kejamnya Jakarta. Ia tak pernah tau ke mana takdir akan membawanya, ia hanya bisa berjalan dengan kedua kaki yang letih menelusuri aspal panas dan ketika malam tiba tak ada tempat yang bisa disinggahinya sekedar untuk melepas lelahnya, tidur di emper toko beralaskan kardus kardus bekas menjadi pilihan yang tak terelakkan sambil menunggu fajar datang bersama caci maki pemilik toko yang marah. Hidup tak pernah adil untuknya, siapa yang peduli dengannya? Pendidikannya? Pertumbuhan psikologisnya? Mimpi mimpi indahnya? WHO CARES? Kepada siapa ia bisa minta pertolongan? Tuhan! Ya, hanya Tuhan yang bisa menolongnya tapi apa ia mengenal Tuhannya? Yang bahkan orang tuanya pun ia tidak tau. Siapa yang akan mengajarinya mengenal Tuhan, solat, mengaji? Siapa yang akan mengajarinya membaca, menulis, berhitung? Siapa yang mendengar jerit hatinya? Siapa yang memeluk ketika ia takut? Siapa yang akan menuntun dan menemaninya menyusuri jalan panjang mimpi mimpinya? Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya hingga rasanya mau pecah...Ooooo hidupnya hanya lelucon bagi mereka yang tak punya hati nurani...

Dia dan Aku

Aku berjalan tanpa tau arah dan tujuanku
Dia berlari dengan arah dan tujuannya

Aku mengeluh dengan segala keadaanku
Dia bersyukur atas semua miliknya

Aku menangis merasakan sakit
Dia tersenyum menahan deritanya

Aku tertawa dengan kegembiraanku
Dia menangis haru atas kebahagiaannya

Aku berteriak saat penat melanda
Dia berdzikir ketika hatinya resah

Aku mencaci ketika tersakiti
Dia memuji ketika dizhalimi

Betapa dia dan aku terpisah jurang yang jauh
Dia yang memiliki hati seluas samudera
Aku hanya memiliki hatiku sendiri
Hidupnya untuk dia, Tuhan dan orang lain
Hidupku hanya untukku
Dia tau apa yang dia cari
Sedangkan aku???
Bahkan siapa diriku pun...
"Aku tak tau"
Dia punya mercusuarnya sendiri
Yang akan selalu menuntunnya ke tujuan
Sedangkan aku???
"Apa mercusuarku? Dimana?"

Akankah waktu berpihak padaku?
Menuntun dan menunjukkan arahku
Mencapai mercusuarku
Ya, mercusuar milikku sendiri

Thursday, April 12, 2012

Calon DKI 1 dan DKI 2

Media media sedang disibukkan dengan berita tentang cagub dan cawagub DKI (DKI 1 dan 2). Ada 6 pasangan calon yang kemungkinan akan masuk dalam pemilihan yaitu: Faisal Basri-Biem Benyamin, Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini, Jokowi-Ahok, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hendarji Supandji-Reza Patria, Foke-Nachrowi. Ada 2 pasangan calon independen yaitu Faisal-Biem dan Hendarji-Reza saya mendukung Faisal-Biem karena tau bagaimana Pak Faisal. Beliau cerdas, kritis, baik, orangnya juga humble dan yang pasti beliau mengenal Jakarta dengan baik. Pak Faisal identik dengan kemeja biru muda polos, celana warna krem, tas ransel, sendal gunung dan tidak lupa botol minum. Ya, beliau selalu membawa botol minum karena ingin mencegah global warming yang semakin menggerogoti bumi ini. Pernah suatu hari saya bertanya sama Pak Faisal "masih bawa botol minum Pak?" beliau menjawab "itu disediain dispenser apa gunanya kalo gelas dan botol botol aqua masih banyak". Setiap kali beliau mau beli makan selalu menawarkan orang orang yang ada di situ terutama karyawan dan makanan favoritnya adalah mie yamin kafe. Pak Faisal juga seorang yang sosialismenya tinggi, beliau punya beberapa anak asuh dan tidak pelit kalau dimintain sumbangan apalagi untuk bantuan biaya pendidikan yang tidak mampu. Sayangnya beliau tidak berhasil menyelesaikan pendidikan S3 politik di FISIP UI karena sempat bertengkar dengan dosennya.

Sebenarnya agak kurang fair karena saya tidak mencoba untuk mengenal profil dari pasangan yang lain atau mencoba mencari tau apa program kerja yang akan mereka tawarkan. Ada nama Jokowi yang sedang naik daun karena kepemimpinannya yang baik sebagai Bupati Solo tapi saya kurang respek karena menurut saya dia tidak mengenal baik Jakarta walaupun dia bisa memimpin Solo dengan baik tapi pada kenyataannya Jakarta itu berbeda jauh dengan Solo. Calon lain yang menurut saya mengenal Jakarta yaitu Hidayat Nur Wahid tapi saya kurang respect karena tidak mengenal sosoknya. Saya sudah terlanjur jatuh hati dengan sosoknya Pak Faisal karena mengenal beliau dari kesehariannya sehingga lebih obyektif, bukan dengan mengenal sosoknya dari media yang kemungkinan besar hanya topeng dan kepura puraan. Lagi lagi masalah yang akan menimpa Pak Faisal adalah karena beliau merupakan calon independen, tidak ada partai yang menjadi backupnya jadi kansnya memang kecil untuk bisa keluar sebagai pemenang. Birokrasi di negara ini memang mempersulit yang baik dan mempermudah yang buruk so akan banyak sekali hambatan yang akan berusaha menjegal tampilnya pemenang independen. Pendukung Pak Faisal kebanyakan berasal dari kalangan aktivis dan akademisi yang tidak hanya memandang kepentingan kelompok atau golongan tetapi lebih kepada kepentingan bersama, Jakarta pada khususnya.

Saya dan mungkin sebagian warga Jakarta sudah MUAK dengan pemimpin yang memakai embel embel partai sebagai naungannya karena mereka punya tanggung jawab terhadap partai yang mendukungnya sehingga harus memberikan balas jasa. Kami butuh pemimpin yang independen yang bisa memimpin Jakarta dengan bijaksana demi kepentingan bersama bukan kepentingan partai.